SIM SESI KE 3

PERTEMUAN III

Tinjauan Umum Pengembangan Sistem

Perlunya Pengembangan Sistem
Pengembangan sistem amatlah perlu dilakukan agar memudahkan :
1. Pengumpulan informasi, untuk mendukung pembangunan atau pengembangan SIM-SDM yang akan dilakukan. Informasi tersebut dapat berupa data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh dengan melakukan observasi mengenai SIM-SDM yang ada, konsultasi, dan wawancara dengan pembuat keputusan. Selain itu, dapat pula dilakukan dengan pengisian kuesioner guna mendapatkan data-data yang diperlukan. Data sekunder diperoleh dari studi literatur/kepustakaan atau media massa/internet.
2. Pemahaman dan pengukuran sistem yang ada. Merupakan salah satu cara untuk mengetahui kekurangan atau kelemahan yang ada. Kekurangan dan kelemahan sistem yang ada perlu diperbaiki dan disempurnakan. Akan tetapi, hal-hal yang perlu dipertahankan dan dimunculkan kembali dalam sistem baru akan dibangun atau dikembangkan. Sehingga perubahan sistem dari yang lama ke yang baru akan menambah performa dari sistem itu sendiri, bukan sebaliknya. Secara jelasnya, sistem lama dapat dijelaskan dengan menggunakan bagan alur sistem (system flowcharts).
3. Identifikasi Kebutuhan Pengguna (user). Pembangunan dan pengembangan teknologi informasi yang tepat pada umumnya menjurus kepada faktor kesatuan budaya dan pengembangan solusi yang sesuai dengan kondisi pengguna atau menggunakan pendekatan user centered, karena tidak satupun aplikasi atau user interface yang ada cocok untuk seluruh pengguna dengan berbagai macam latar budaya.
4. Studi Kelayakan. Dilakukan terhadap aspek organisasi (manajerial), aspek teknik, aspek operasional, dan aspek ekonomi. Aspek organisasi berkaitan dengan fungsi dan komponen dalam struktur organisas. Aspek teknis berkaitan dengan ketersediaan perangkat keras dan perangkat lunak. Aspek operasional berkaitan dengan ketersediaan sumber daya manusia yang mampu mendukung operasi sistem. Aspek ekonomi berkaitan dengan keuntungan dan kerugian secara ekonomi terhadap implementasi SIM-SDM.

Prinsip Pengembangan Sistem
Menurut Hendri Tandjung et al, prinsip pengembangan sistem terbagi menjadi beberapa bagian :
1. Harus berorientasi pada pengguna, meskipun secara teknis mutakhir. Sistem seharusnya tidak dinilai atas dasar kecanggihan teknomlogi yang digunakan, tetapi sejauhmana sistem dapat membantu manajemen dalam pelaksanaan fungsi-fungsinya. Semakin besar perusahaan, semakin canggih teknologi informasi yang digunakan.
2. Harus mencoba melayani semua fungsi manajemen yang dipandang perlu saja. Tidak dianjurkan untuk melayani semua fungsi dalam suatu sistem informasi, apalagi sistem yang baru yang sebelumnya tidak pernah ada. Kita lebih baik mengusahakan SIM sederhana dalam rancangan dan outputnya, agar kemudahan penggunaan dapat tercapai.
3. Perhatikan dukungan manajemen. Masalah dukungan bukanlah masalah yang remeh dan manajemen puncak jelas diperlukan agar proyek sistem berhasil. Ada pengalaman suatu perusahaan yang berusaha membuat suatu sistem informatika yang canggih. Tetapi CEO perusahaan tidak menyetujuinya, akhirnya biaya yang sudah telanjur dikeluarkan menjadi terbuang percuma.
4. Seluruh anggota tim seharusnya terdiri dari orang-orang berpengalaman yang berasal dari berbagai latar belakang pendidikan dan keahlian masing-masing. Tujuannya agar semua masalah yang akan diselesaikan nantinya dapat terselesaikan sebelum waktunya dengan baik.
5. Pertimbangkan waktu penyelesaian proyek. Manajer proyek dituntut agar mempunyai keterampilan yang efektif. Dalam beberapa praktik, manajer proyek biasanya merupakan salah satu manajer yang memiliki pengetahuan aplikasi komputer dan posisinya yang cukup tinggi dalam organisasi. Tentunya hal ini beralasan mengingat kritisnya proyek jika ternyata proyeknya gagal.
6. Harus memberdayakan kembali tenaga kerja yang sudah ada dan bila perlu merekrut tenaga kerja baru pada tahap awal. Sistem yang dikembangkan lebih tepat dipandang sebagai penyedia jasa informasi yang mampu menambah jumlah tenaga kerja. Dengan demikian kredibilitas tim tidak akan hilang di mata pihak manajemen.
7. Kembangkan sistem komunitas yang dapat dibeli oleh konsumen. Sebelum membuat sistem seniri, organisasi hendaknya mempertimbangkan alternatif pembelian paket-paket yang ada. Sesudah tim proyek menentukan spesifikasi sistem, langkah-langkah selanjutnya adalah mengkaji berbagai sistem yang ada di pasar sebelum membuat keputusan untuk menyusunnya sendiri di dalam organisasi.

Siklus Hidup Pengembangan Sistem
Kita dapat mengartikan siklus hidup pengembangan sistem sebagai suatu proses evolusi yang terjadi dalam pengimplementasian sistem atau subsistem informasi berdasarkan komputer. Istilah SLC (system life cyclus) biasanya juga digunakan, yaitu dari SLDC (system development life cycles) atau siklus hidup pengembangan sistem. Ada empat fase siklus hidup pengembangan sistem sebagaimana gambar dibawah ini :

THE COOPERATIVE SYSTEM DEVELOPMENT PROCESS

Pada fase perencanaan, yang merupakan tanggung jawab manajer, manajer mendefinisikan masalah yang akan dipecahkan atau tujuan yang akan dicapai, dan spesialis informasi memberikan dukungan kepadanya. Fase analisis dan disain adalah studi mengenai sistem yang dilakukan oleh sistem analis. Fase pengimplementasian melibatkan semua spesialis informasi yang menyusun sumber yang diperlukan. Yang terakhir, periode informasi, terutama oeprastor, menjadikan sumber agar dapat digunakan oleh operator.

Proses siklus hidup diatas juga sedang mengalami perubahan akibat dua pengaruh :

Pendekatan Pengembangan Sistem
Terdiri dari :
1. Investigasi Sistem, berupa pengumpulan informasi yang bertujuan untuk mendukung pembangunan atau pengembangan SIM-SDM yang akan dilakukan, berupa data primer dan data sekunder; memahami dan mengevaluasi sistem yang ada untuk mengetahui kekurangan atau pun kelemahan yang ada untuk segera diperbaiki; identifikasi kebutuhan pengguna (user), dan studi kelayakan (aspek organisasi dan aspek teknik/hardware dan soft ware).
2. Analisis Sistem. Hal yang pertama dilakukan adalah menentukan jenis informasi apa yang dibutuhkan, menentukan kebutuhan kapabilitas proses informasi, dan menguji untuk dapat mengetahui kebutuhan-kebutuhan fungsional dari sistem tersebut.
3. Laporan Hasil Investigasi dan Analisis. Antara lain berisi uraian alasan dan batasan investigasi dan analisis; definisi sistem yang ada dan operasinya; uraian tujuan (objektif) dan kendala sistem; deskripsi tentang masalah-masalah yang belum terselesaikan; uraian tentang asumnsi selama proses investigasi dan analisis; rekomendasi sistem baru; dan proyeksi kebutuhan sumber daya yang diperlukan.
4. Desain Sistem. Terdiri dari spesifikasi user interface; spesifikasi database; spesifikasi perangkat lunak; spesifikasi perangkat keras; dan spesifikasi personel.
5. Implementasi Sistem. Terbagi menjadi : akuisisi perangkat keras, perangkat lunak, dan layanan; pembangunan atau modifikasi perangkat lunak; pelatihan bagi pengguna (user); dokumentasi sistem; konversi sistem (parallel, percontohan, phased, plunge)
6. Pemeliharaan dan Evaluasi Sistem. Tujuannya untuk menilai kemampuan teknis, pelaksanaan operasional, dan pendayagunaan sistem.

Metodologi Pengembangan Sistem
Metodologi pengembangan sistem adalah metode atau prosedur yang digunakan dalam mengembangkan suatu sistem informasi. Dalam mengembangkan sistem informasi perlu digunakan suatu metodologi sebagai pedoman bagaimana dan apa yang harus dikerjakan selama pengembangan sistem. Metodologi pengembangan sistem yang ada biasanya diusulkan dalam bentuk perangkat lunak yang tersedia secara komersial (dijual bebas) dalam bentuk paket program.
Metodologi pengembangan sistem dapat digolongkan menjadi :
1. Functional Decomposition Methodologies

2. Data Oriented Methodologies

Metode ini menekankan pada karakteristik data yang akan diproses. Metodologi ini dapat dikelompokkan ke dalam dua kelas, yaitu :

3. Prescriptive Methodologies
Metodologi ini menekankan pada proses pengembangan sistem informasi, seperti analisa dan desain terstruktur, manajemen data yang akurat (DATABASE), serta analisis jaringan untuk memeriksa kelengkapan semua hubungan data dan proses dalam suatu sistem.

Analis Sistem dan Pemrogram
Tahap analisis sistem merupakan tahap yang paling sulit. Tahap ini memerlukan keterlibatan manajemen eksekutif, analis sistem, dan pengguna untuk menentukan sistem informasi yang diperlukan secara spesifik. Hal pertama yang dilakukan adalah menentukan jenis informasi apa yang akan dibutuhjan, baik dari segi format, jumlah, frekuensi, dan waktu. Selanjutnya, menentukan kebutuhan kapabilitas proses informasi untuk masing-masing aktivitas sistem, seperti input, proses, output, penyimpanan, dan pengendalian sistem.
Pada akhirnya, akan diketahui kebutuhan-kebutuhan fungsional dari sistem tersebut. Kebutuhan fungsional merupakan kebutuhan pengguna terhadap informasi yang tidak terikat pada perangkat keras, perangkat lunak, jaringan, data, dan sumber daya manusia yang digunakan saat ini atau mungkin digunakan pada sistem yang baru. Analisis sistem biasanya dilakukan secara detail oleh analis sistem pada setiap jenis informasi yang dihasilkan oleh sistem informasi tersebut. Kejelasan analisis akan sangat membantu proses dalam pembuatan sistem.
Kendala yang dihadapi oleh analis sistem biasanya terjadi karena belum adanya norma, standar, dan prosedur dalam rangka penyiapan manajemen kepegawaian dalam analisis jabatan, pedoman penyiapan peta jabatan, uraian jabatan, dan kompetensi jabatan.
Pemrograman dalam pengertian luas meliputi sekuruh kegiatan yang tercakup dalam pembuatan program, termasuk analisis kebutuhan dan seluruh tahap perencanaan, perancangan dan implementasinya. Dalam pengertian yang lebih sempit, pemrograman merupakan pengkodean (coding atau program writing=penulisan program) dan pengujian (testing) berdasarkan rencana tertentu. Pemahaman yang lebih sempit ini sering digunakan dalam pembuatan program terapan komersial yang membedakan antara analis sistem yang bertanggung jawab menganalisis kebutuhan, perencanaan, dan perancangan sistem dengan pemrogram (programmer) yang bertugas membuat kode dan menguji kebenaran program.
Jadi, pemrogram atau programmer adalah orang yang bertugas membuat program atau rencana yang merupakan suatu kebutuhan utama dalam mengambil keputusan yang dimulai dari perencanaan, perancangan, dan penerapannya.

Konsep Informasi

1. Bahwa informasi digunakan untuk memperbaiki teori, dimana teori memberitahu manajer apa yang diharapkan. Sistem informasi memberitahukan apa yang sedang terjadi.
2. Jika kenyataan aktivitasnya berbeda dengan apa yang diharapkan, maka teori diperbaiki.
3. Selama jangka waktu tertentu, manajer dapat mengembangkan teori yang secara akurat meramalkan perilaku dalam sistem bisnis.

Definisi Informasi (sudah dibahas di pertemuan sebelumnya)
Informasi adalah data yang diolah dalam bentuk fakta dan gambar atau dalam bentuk apapun yang memiliki arti penting bagi perusahaan atau lembaga untuk menguak sesuatu yang sebelumnya tidak diketahui.
Contoh :

Redukasi Data
Redukasi data berasal dari kata “data reducation” atau pengolahan ulang data, artinya data yang telah ada bisa saja harus diolah kembali karena terdapat beberapa atau banyak kesalahan dalam pengolahannya dan cara penyampaiannya. Misalnya : daftar pelanggan tetap IM3 Indosat

Mutu Informasi
Sebuah informasi pada umumnya ditentukan oleh :
1. keakuratan (Accurate)
2. ketepatan waktu (timeliness)
3. keeratan hubungan antara informasi dan produk (relevances)

sebagaimana telah dibahas dalam pertemuan I, maka informasi itu harus jelas dan dapat dimengerti isinya oleh orang yang menerimanya, terlebih lagi di suatu lembaga, informasi itu harus disampaikan secepat mungkin dan tepat sasaran untuk memudahkan manajer dalam mengambil keputusan.

Peranan Informasi dalam Kualitas Produk dan Jasa

Dimensi Kualitas Produk dan Jasa
Kualitas produk dan jasa sangat mempengaruhi perkembangan informasi mengenai produk dan jasa yang akan ditawarkan ke pelanggan. Dimensi kualitas produk dan jasa biasanya berkaitan dengan sistem distribusi yang digambarkan sebagai sebuah persegi panjang tegak lurus, dengan tanda anak panah yang menggambarkan data yang mengalir antara sistem dan lingkungannya. Elemen lingkungan digambarkan dengan persegi panjang yang lebih kecil.

Jadi, dimensi kualitas produk dan jasa terdiri dari :
1. pesanan penjualan (sales order), adalah pesanan dari pelanggan yang diterima oleh perusahaan.
2. pesanan pembelian (purchase order), adalah pesanan yang dilakukan perusahaan terhadap pemasoknya.
3. komitmen (commitment), adalah persetujuan atau penolakan pesanan penjualan dan pembelian.
4. arus pengiriman (dispatch flow), adalah alur pergerakan barang dari pemasok ke perusahaan, dan arus stok ke gudang persediaan barang.

Dasar-dasar Manajemen Kualitas dalam Jasa Informasi
Dalam mengelola informasi yang dibutuhkan perusahaan atau lembaga, manajer melakukan 3 (tiga) criteria atau beberapa penilaian dasar :
1. strategi penilaian masukan, yang bertujuan menilai perencanaan informasi yang disusun berdasarkan informasi yang nyata.
2. strategi penilaian proses, yang bertujuan menilai pelaksanaan transformasi informasi, mulai dari pengumpulan data, pengolahan data, pengolahan, analisis dan penilaian, penyajian dan penyebarluasan, dokumentasi, dan komunikasi yang secara keseluruhan merupakan suatu proses yang berkesinambungan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: